The Howling Wolf
There's a truth in their howl.....
  • fuckyeahlaughters
  • mothernaturenetwork
  • fuckyeahairplanes
  • dirgaahmad
  • rkrishnayanti
  • fortyonethousandfeet
  • puspitasaria
  • kari-shma
  • ujiujino
  • fuckyeahaircraft
  • akucintaliburan
  • leilockheart
  • alpharnzani
  • medisappear
  • juliasegal
  • yearsofwineandroses
  • azhimenteur
  • fuckyeahmahasiswa
  • saripit
  • parenthesesspeak
  • blurtingmonsterg
  • andinossaurus
  • samspratt
  • lolharrypotter
  • fuckyeahads
  • jaritelunjuk
  • monstergurame
  • lastyearstory
  • mongoliaorange
  • yunisarah
  • anggiflyer
  • imaginawesome
  • fyeahintellectualhumour
  • gopalgopel
  • syifan
  • xtyleafxtion
  • messrspadfootandprongs
  • emttaq

Lavender’s Blue

Lavender’s blue, dilly dilly, lavender’s green,

When I am king, dilly, dilly, you shall be queen.

Who told you so, dilly, dilly, who told you so?

‘Twas my own heart, dilly, dilly, that told me so.

Lavender’s green, dilly, dilly, Lavender’s blue,

If you love me, dilly, dilly, I will love you.

Let the birds sing, dilly, dilly, And the lambs play;

We shall be safe, dilly, dilly, out of harm’s way.

*Lavender’s Blue, an English Folk Song.

Risiko

Tertawa adalah mengambil risiko terlihat seperti orang bodoh…

Menangis adalah risiko memperlihatkan kesentimentilan…

Mengulurkan bantuan adalah mengambil risiko untuk terlibat…

Menunjukkan perasaan adalah mengambil risiko,menunjukkan dirimu yang sebenarnya…

Menceritakan ide dan mimpimu di hadapan orang banyak,

adalah mengambil risiko kehilangan ide dan mimpimu itu…

Mencintai adalah mengambil risiko untuk ditolak…

Hidup adalah mengambil risiko untuk mati…

Berharap adalah mengambil risiko untuk kehilangan harapan…

Mencoba adalah mengambil risiko untuk gagal…

Tetapi risiko haruslah diambil karena bahaya terbesar dalam hidup,

adalah tidak berani mengambil risiko apapun…

Seseorang yang tidak berani mengambil risiko,

Tidak melakukan apapun,dia tidak memiliki apapun, adalah bukanlah apapun…

Dia mungkin terhindar dari penderitaan dan duka cita,

tetapi dia sungguh tidak bisa belajar, merasakan berubah,tumbuh, hidup, dan mencintai…

Dirantai oleh kepastiannya, dia adalah budak…

Dia telah mengorbankan kebebasan…

Hanya yang berani mengambil risikolah yang sesungguhnya bebas…

(Pesan wali kelas saya ketika kelas IX, Ibu (Almh) Imas Masyatun)

Tukang Kerupuk

Pada tahun 1969, saya mengikuti latihan para dasar, terjun payung statik di pangkalan Udara Margahayu Bandung. Menjalani latihan yang cukup berat bersama dengan lebih kurang 120 orang dan ditampung dalam dua barak panjang tempat latihan terjun tempur. ]

Setiap makan pagi, siang dan malam hari yang dilaksanakan di barak, kami memperoleh makanan ransum latihan yang diberikan dengan ompreng dan atau rantang standar prajurit. Diujung barak tersedia drum berisi sayur, dan disamping nya ada sebuah karung plastik berisi kerupuk milik seorang ibu setengah baya warga sekitar asrama prajurit yang dijual kepada siapa saja yang merasa perlu untuk menambah lauk makanan jatah yang terasa kurang lengkap bila tidak ada kerupuk. Sang ibu paruh baya ini, tidak pernah menunggu barang dagangannya.

Setiap pagi, siang dan malam menjelang waktu makan dia meletakkan karung plastik berisi krupuk dan disamping nya diletakkan pula kardus bekas rinso untuk uang, bagi orang yang membeli kerupuknya. Nanti setelah selesai waktu makan dia datang dan mengemasi karung plastik dengan sisa kerupuk dan kardus berisi uang pembayar kerupuk.

Iseng, saya tanyakan, apakah ada yang nggak bayar Bu? Jawabannya cukup mengagetkan, dia percaya kepada semua siswa latihan terjun, karena dia sudah bertahun-tahun berdagang kerupuk di barak tersebut dengan cara demikian. Hanya meletakkan saja, tidak ditunggu dan nanti setelah semuanya selesai makan dia baru datang lagi untuk mengambil sisa kerupuk dan uang hasil jualannya. Selama itu, dia tidak pernah mengalami defisit. Artinya tidak ada satu pun pembeli kerupuk yang tidak bayar. Setiap orang memang dengan kesadaran mengambil kerupuk, lalu membayar sesuai harganya. Bila dia harus bayar dengan uang yang ada kembaliannya, dia bayar dan mengambil sendiri uang kembaliannya di kotak rinso kosong tersebut. Demikian seterusnya. Beberapa pelatih terjun, bercerita bahwa dalam pengalamannya, semua siswa terjun payung yang berlatih disitu dan menginap dibarak latihan tidak ada yang berani mengambil kerupuk dan tidak bayar. Mereka takut, bila melakukan itu, khawatir payung nya tidak mengembang dan akan terjun bebas serta mati berkalang tanah.

Sampai sekarang, saya selalu berpikir, mengapa orang sebenarnya bisa jujur, dan dapat dipercaya, hanya karena pintu kematian berada didepan wajahnya. Yang saya pikirkan, bagaimana caranya membuat manusia setiap saat berada dalam kondisi atau suasana latihan terjun, mungkinkah ?

Tulisan Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim
http://www.chappyhakim.com/2009/05/12/tukang-kerupuk/  

Adults are only kids grown up, anyway…
Walt Disney

梦をかなえてドラえもん

Kokoro no naka itsumo itsumo egaite’ru

yume wo noseta jibun dake no sekai chizu

(Takekoputa!)

I’ve always been sketching in my heart

a personal world map that carries my dream

(Take-copter!)

Sora wo tonde toki wo koete tooi kuni de mo

doa wo akete hora ikitai yo ima sugu

(Dokodemo-Doa!)

Flying through the sky, leaping through time, even a faraway country,

just open the door and look, I want to go now!

(Anywhere-Door!)

Otona ni nattara wasurechau no ka na?

Sonna toki ni wa omoidashite miyou

Once I become an adult, will I end up forgetting all these?

At that time, let’s try to recall.

Shalalalala boku no kokoro ni

itsu made mo kagayaku yume

Doraemon sono poketto de kanaesasete ne

Shalalalala, in my heart

is an ever-shining dream.

Doraemon, make it come true with your pocket.

Shalalalala uta wo utaou

minna de saa te wo tsunaide

Doraemon sekaijuu ni yume wo sou afuresasete

Shalalalala, let’s sing a song.

Everyone, let’s hold hands together.

Doraemon, make the entire world filled with dreams.

Yaritai koto ikitai basho mitsuketara

mayowanaide kutsu wo haite dekakeyou

(Taimu Mashiin!)

If you’ve found what you want to do, and where you want to go,

don’t hesitate, put on your shoes, and let’s go.

(Time Machine!)

Daijoubu sa hitori ja nai boku ga iru kara

kirakira kagayaku takaramono sagasou yo

(Yojigen-Poketto!)

It’s fine. You’re not alone. I’m right here.

Let’s look for some sparkling treasures.

(4-Dimensional Pocket!)

Michi ni mayotte mo nakanaide ii yo

himitsu no dougu de tasukete ageru yo

Even if you get lost, there’s no need to cry.

I will help you with my secret gadgets.

Shalalalala kuchibue fuite

Takaraka ni arukidasou

Doraemon ano machi made todokeba ii ne

Shalalalala, with a loud whistle,

let’s start walking.

Doraemon, we can try to reach the next town.

Kono Hoshi no Dokokade

Di suatu tempat di planet ini…

Jangan pernah lupa, sebuah keajaiban pernah ku temukan di planet ini
Dia bersinar redup di telapak tanganku
Hartaku yang paling berharga…

Kita pernah membicarakan tentang sebuah mimpi di mana kita memiliki sayap
Negeri matahari yang ada di seberang pelangi yang kita lompati
Dengan firasat menyenangkan melimpah di hatiku

Dalam kengangan yang berkilauan, berdiri saling memandang dan mengutarakan isi hati kita
Warna baru yang menyenangkan hati, yang menimbulkan keberanian, serta menunjukkan keajaiban pada kita

Aku menemukan keajaiban yang terselip hari ini
Yakni, cinta yang takkan berubah, yang berada di balik pintu yang sama..

Jangan pernah lupa bahwa kita terlahir, dan bertemu di planet ini
Kita telah menciptakan sebuah keajaiban lewat perjalanan menempuh waktu yang telah kita lewati…

#Terjemahan Kono Hoshi no Dokokade, soundtrack Doraemon the movie Legenda Raja Matahari. Menurut saya ini adalah soundtrack Doraemon the movie yang paling bagus…

“Otak manusia pada awalnya sama seperti loteng kecil yang kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan pilihanmu. Orang bodoh mengambil semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit ditengah-tengah atau tercampur dengan hal-hal lain. Orang bijak sebaliknya. Dengan hati-hati ia memilih apa yang dimasukkannya ke dalam loteng-otaknya. Ia tidak akan memasukkan apapun kecuali peralatan yang akan membantunya dalam melakukan pekerjaannya, sebab peralatan ini saja sudah sangat banyak. Semuanya itu diatur rapi dalam loteng-otaknya sehingga ketika diperlukan, ia dapat dengan mudah menemukannya. Keliru kalau berpikir loteng-otak kita memiliki dinding-dinding yang bisa membesar. Untuk setiap pengetahuan yang kau masukkan, ada sesuatu yang sudah kau ketahui yang terpaksa kau lupakan. Oleh karena itu, penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta yang berguna.”

(Sherlock Holmes, A Study in Scarlet)

Phénix, prends-moi sous ton Aile

God, encourage me and give me the strength and guidance to face those bloody troublemakers…